#giveaway1anaksehatdanberkualitas “Kehidupan setelah menikah” Setelah...

#giveaway1anaksehatdanberkualitas

“Kehidupan setelah menikah”

Setelah menikah kehidupanku berubah. Yang dulu adalah seorang gadis yang manis nan manja, tidak bisa melakukan pekerjaan rumah satupun. Seketika berubah di saat aku menjadi seorang istri. Awal menikah bingung harus berbuat apa, tak tahu harus melakukan apa. Rutinitas yang berubah 180 derajat. Apalagi setelah menikah langsung diboyong ke rumah suami yang jauh dari rumah ibu sekaligus mertua.

Aku menangis di hari pertama tinggal di rumah suami. Tak tahu harus berbuat apa. Bingung harus mengerjakan apa. Biasanya hanya berkutat dengan buku-buku dan PC serta angka-angka, sekarang harus mengerjakan pekerjaan rumah. Pekerjaan yang berbanding terbalik dengan keseharianku biasanya. Mata mulai panas dan pandangan mulai buram. Tanpa terasa cairan bening keluar dari sudut mata. Aku terisak. Tiba-tiba suami mendatangiku di dapur.

“Kenapa kamu menangis, Dek?” tanya suamiku.

“Maaf, Mas. Aku nggak tahu harus melakukan apa. Aku... nggak bisa masak....” ucapku pelan.

Suamiku terbahak mendengar penuturanku. Aku mengernyit heran, lalu berucap, “Kenapa tertawa sih? Apa ada yang lucu?” Aku mengerucutkan bibir.

Suamiku menggeleng. “Nggak ada kok, Dek. Kalau kamu nggak bisa masak ya udah, untuk sementara nggak usah masak dulu. Kita kan bisa beli,” ucap suamiku sambil mengelus kepalaku dengan lembut.

Aku mengulum senyum lalu mengangguk. Beruntungnya memiliki suami seperti dia. Sungguh bisa mengerti keadaanku. Hari pertama aku mengerjakan pekerjaan rumah dibantu oleh suami. Dari dialah aku bisa mengerti pekerjaan rumah. Beruntungnya mempunyai suami yang dewasa. Sedang aku seorang yang sangat manja. Kami beda 12 tahun. Sebenarnya usiaku saat menikah tidak terlalu muda, usia 24 tahun bukan usia yang muda bukan? Namun, sikapku yang menyebabkan aku kekanakan. Mungkin karena aku anak bungsu.

Hari-hari aku lalui dengan santai. Mengerjakan pekerjaan rumah dengan riang, sehingga merasa enjoy tanpa beban. Seperti saat bekerja dulu. Setelah menikah, aku memang memutuskan untuk berhenti bekerja. Ingin mengabdi pada suami, masalah rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Semakin hari, aku semakin lihai dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Memasak pun sudah pintar. Meskipun awal-awal, rasanya sungguh di luar dugaan. Tapi karena suami selalu memberi pujian, maka tak pernah berhenti menyerah. Setiap hari aku googling resep makanan. Sampai akhirnya aku jago dalam hal masak memasak.

Tanpa kusadari, hari berganti bulan, bulan berubah menjadi tahun. Tak terasa sudah satu tahun kami menikah. Namun, tak juga dikarunia buah hati. Aku sangat cemas, khawatir tidak bisa memberikan buah hati pada suamiku.

“Mas, kenapa aku belum ada tanda-tanda hamil ya?” tanyaku.

“Nggak apa-apa, Dek. Belum saatnya. Nanti juga pasti kita diberi amanah kalau sudah waktunya.” Suami tersenyum menatapku.

Lagi-lagi aku tersipu, suamiku selalu mengerti aku. Hingga suatu hari tepat satu setengah tahun, aku mengalami mual dan pusing yang berlebih. Rasanya buat bangun tak sanggup. Suami membawa ke dokter, dan ternyata aku positif hamil. Aku bahagia sekali, akhirnya keinginan memiliki buah hati terkabul.

Suamiku semakin ekstra dalam menjaga, makanan dan minuman harus yang bergizi. Tidak boleh makan dan minum sembarangan. Aku juga tidak mengikuti pantangan apapun ketika hamil, mitos dan segala macam diterobos. Kalau ada yang melarang ini itu, cuma kami iyakan saja. Tapi tidak pernah kami lakukan. Kami hanya menurut apa kata dokter.

Hingga akhirnya waktu berjalan dengan cepat, usia kandunganku memasuki 9 bulan. Di pagi hari aku merasakan sakit di perut bagian bawah, sebentar hilang, sebentar muncul. Berjarak satu jam. Aku rasa akan melahirkan. Namun, aku tidak terburu-buru mengajak ke puskesmas. Tepat jam 11 siang rasa sakit sudah tak tertahan, aku pun segera mengajak suami ke puskesmas. Suami kebetulan memang tidak bekerja karena aku larang. Tiba di puskesmas ternyata masih pembukaan dua. Dua jam kemudian aku merasakan sakit yang semakin nikmat. Ketika dicek ternyata sudah pembukaan delapan. Aku dibawa ke ruang bersalin. Baru saja sampai aku merasakan ada sesuatu yang ingin keluar, ternyata air ketuban, tak lama kemudian terdengar suara bayi menangis. Aku bernapas lega. Seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Suami mencium keningku.

Babak baru dimulai lagi, aku harus mengurus bayi seorang diri. Awalnya aku kesulitan. Namun, karena dukungan dari suami aku pun menikmati masa-masa ini. Begadang tiap malam, karena bayiku selalu menangis tiap malam. Di saat aku lelah, maka suami yang mengganti menjaga bayi kami. Kami bekerja sama dalam merawat anak kami.

“Kalau kamu capek, istirahatlah, Dek. Biar Mas yang menjaga Ghibran,” ucap suamiku.

Aku mengangguk. “Iya, Mas. Makasih ya, kamu mau menggantikan menjaga Ghibran,” ucapku.

“Iya, Dek. Kita harus bekerja sama.” Suamiku lalu mengambil Ghibran dari gendonganku. Dan aku pun bisa istirahat dengan tenang.


Tanpa terasa waktu terus bergulir. Ghibran semakin bertambah umur dan semakin aktif. Aku semakin kewalahan menjaganya. Apalagi ketika sudah mulai belajar merambat. Karena Ghibran anak yang aktif, aku terkadang lupa makan. Mandi pun jarang. Kecuali jika suamiku sedang berada di rumah, barulah bisa me time. Terkadang aku suka bosan dengan rutinitas setiap hari yang selalu sama. Memasak, mencuci, menjaga anak dan sebagainya. Tapi terkadang rasa bosan itu hilang sendiri ketika melihat perkembangan Ghibran yang bagus.

Namun, ketika Ghibran berusia satu tahun dan belum bisa berjalan banyak nyinyiran yang datang padaku. Di mana anak seusianya sudah bisa berjalan, tapi Ghibran belum. Namun, aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Masih dalam batas wajar, usia satu tahun belum berjalan.

Ketika Ghibran berusia 13 bulan, aku tiba-tiba merasakan pusing dan mual. Aku minta dibelikan obat pada suami. Namun, suami melarang. Dia khawatir aku hamil. Tapi aku bersikeras bilang kalau hanya masuk angin. Suami membelikanku test pack. Setelah melakukan test pack dan melihat hasilnya, hatiku hancur, dunia seolah runtuh. Hasilnya positif, aku hamil. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku berlari ke kamar memberitahu suami.

“Mas! Mas! Bangun!” Aku menggoncang-goncangkan tubuh suami.

Suamiku menggeliat, mengerjapkan mata. “Ada apa, Dek? Kenapa menangis?” tamiya suamiku heran.

“A-aku... hamil, Mas.” Aku terisak.

Suami merengkuhku ke dalam pelukannya. “Sudah, nggak usah nangis. Orang hamil kok malah nangis. Harusnya seneng. Ini rezeki dari Allah.” Suami menghiburku.

“Tapi Ghibran masih kecil, Mas. Apa kata ibuku nanti?” Aku semakin terisak, bahu bergetar kencang.

Suami mengelus pundakku dengan lembut, menenangkanku. Aku benar-benar hancur. Tak ingin kehamilan ini. Aku pun memukul-mukul perut. Suami menepis tanganku. Dia menggeleng. Aku menghambur ke pelukannya lagi. Menangis di dalam pelukannya. Bagaimana dengan ibuku? Pasti sangat marah.

Beberapa hari kemudian aku pergi ke bidan untuk periksa. Dan disarankan untuk ke dokter kandungan. Aku diberi surat rujukan. Dua hari setelahnya, kami berangkat menuju RS. Sampai di sana harus menunggu antrean. Ketika sudah dipanggil, aku masuk ke dalam ruang dokter. Dokter pun melakukan USG dan ternyata kandunganku sudah memasuki usia 10 week. Aku menutup mulut, tak menyangka. Kasihan anakku, kenapa sampai tidak tahu kalau ada kehidupan baru di dalam rahim ini. Aku menangis. Antara sedih dan bahagia. Tak pernah berharap bisa hamil lagi. Perjuangan baru dimulai kembali.

Ternyata apa yang dikhawatirkan benar-benar terjadi, keluarga terutama ibuku tidak mendukung kehamilan kedua ini. Mereka menyalahkanku, karena tidak ikut KB. Mereka bilang kasihan Ghibran, dia masih butuh ASI. Tapi malah aku hamil lagi. Mereka bilang ASI dalam keadaan ibu hamil bisa menjadi racun. Ghibran harus lepas ASI, itu kata ibuku. Namun, aku tetap pada pendirian yaitu melakukan NWP. Toh mereka tidak akan tahu, karena kami tidak tinggal serumah. Kehamilan kedua lancar, tanpa ada halangan. Semua jenis makanan masuk. Meski kadang merasa cepat lelah karena harus mengurus Ghibran yang sedang aktif-aktifnya.

Ketika Ghibran memasuki usia 14 bulan, perutku sering merasa sakit. Mengalami flek juga. Menurut dokter aku harus berhenti menyusui, karena mengalami kontraksi yang hebat. Semua demi janin yang aku kandung. Aku mengalami dilema, kasihan pada Ghibran, namun juga kasihan pada sang janin. Akhirnya, perlahan-lahan Ghibran aku kurangi frekuensi menyusunya. Dan akhirnya selama satu bulan berhasil menyapih secara WWL.

Semakin kesini, semakin banyak nyinyiran yang kudengar. Ghibran masih kecil, sudah hamil lagi. Namun, namanya rezeki tidak akan pernah tahu. Karena seringnya mendapat nyinyiran aku semakin kebal. Akhirnya di usia Ghibran yang ke 16, dia bisa berjalan. Aku sangat senang. Hilang satu nyinyiran dari orang-orang.

Memasuki usia kandungan yang ke-9, aku sering merasa letih dan lesu. Kepala pusing, karena memang tensi selalu rendah. Aku harus banyak beristirahat. Dan memakan makanan yang bergizi.

Suatu sore aku merasakan perut sakit di bagian bawah. Tanda-tanda mau melahirkan. Aku masih tenang, karena sudah pernah mengalami hal ini. Akuasih beraktifitas seperti biasa. Menyuapi Ghibran, memandikan dan bermain dengan Ghibran. Semakin malam semakin nikmat rasanya. Aku tidak bisa tidur. Suami dan Ghibran tidur sangat nyenyak. Pukul tiga dini hari, aku membangunkan suami, mengajaknya ke puskesmas. Ghibran kami titipkan di rumah adik ipar. Rumahnya dekat dengan rumahku. Akhirnya sampai di puskesmas pukul empat subuh. Ketika dicek, sudah pembukaan empat. Tak lama kemudian aku merasa ingin mengejan. Dan tepat pukul lima subuh, lahirlah seorang bayi perempuan yang imut. Aku bersyukur akhirnya keinginan mempunyai anak gadis tercapai. Tampak senyum bahagia di wajah suamiku.


Babak dua dimulai. Aku harus menjaga dua bayi sekaligus. Awalnya aku stres dan pusing. Apalagi di hari pertama kehadiran gadis kecilku. Malam harinya Ghibran dan adiknya menangis dalam waktu bersamaan. Ghibran cemburu pada adiknya. Tiap aku menggendong sang adik, Ghibran menangis. Sedang si adik masih membutuhkan aku. Karena di usia satu hari ASI belum begitu lancar, jadi masih sebentar-sebentar menyusu. Aku benar-benar stress dan ikut menangis juga. Suami menenangkan dan dia mencoba membujuk Ghibran agar tidak menangis. Memberi pengertian kalau adik ini, saudara dan teman Ghibran. Harus saling menyayangi dan tak boleh saling iri. Akhirnya, pada pukul satu dini hari Ghibran bisa tidur, entah karena kecapekan setelah menangis atau karena terlalu mengantuk. Aku bisa bernapas lega dan berbaring. Istirahat. Si adik dengan suami.

Hari kedua, Ghibran sudah bisa menerima kehadiran adiknya. Ketika adiknya menangis aku disuruh menggendong dan menyusuinya. Aku senang ternyata Ghibran punya jiwa penyayang. Tak perlu waktu lama juga, untuk bisa menerima kehadiran orang baru.

Meskipun awalnya rikuh dan bingung, namun lama kelamaan terbiasa juga. Si kakak, aku ajarkan untuk sayang pada adiknya. Aku tak pernah membedakan kasih sayang di antara mereka berdua. Walaupun terkadang si kakak suka jahil pada adiknya. Namun, aku tak pernah melarang ataupun memarahi sang kakak. Biarkan mereka bercanda bersama.

Sekarang si kakak berusia 26 bulan dan si adik 6 bulan. Pekerjaan rumahku sering terbengkalai. Rumah sering berantakan. Terkadang tak sempat mencuci. Apalagi jika keduanya menangis dalam waktu bersamaan. Untungnya suami tak pernah protes ataupun marah-marah. Yang penting mengurus anak-anak dengan baik. Meskipun pulang dari bekerja melihat keadaan rumah yang seperti kapal pecah. Justru terkadang dia membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Meskipun dia capek habis pulang bekerja.

Aku harus bisa membagi waktu dengan tepat dan bekerja dengan cepat. Memasak pun jadi bisa secepat kilat. Mandi jangan tanya, terkadang mandi sehari sekali. Yang penting anak-anak selalu bersih dan rapi.

Hanya ibu dengan dua balita yang jarak umurnya dekat, yang bisa mengerti rasanya, makan sambil menyuapi si kakak, sambil menyusui si adik.

Mandi bertiga dan secepat kilat. Tak bisa bersantai ria seperti masa gadis dulu.

Siang hari, hanya ingin sekadar berbaring pun tak bisa. Anak-anak tidurnya tidak sama waktunya. Si adik tidur, si kakak terjaga. Dan ketika si kakak waktunya tidur, si adik sudah waktunya bangun.

Malam hari pun tak bisa tidur dengan nyenyak. Setelah menidurkan si kakak, gantian menidurkan si adik. Malam hari si adik kebangun minta nenen. Baru mau memejamkan mata, si kakak bangun minta minum kadang minta di antar buang air kecil. Sejak memiliki dua anak dengan jarak dekat, aku bisa melewati sepanjang malam tanpa tidur. Terkadang tidur karena lupa.

Lelah memang menjadi seorang ibu dengan dua balita yang jarak umurnya dekat. Namun, aku menikmati masa-masa ini. Tidak akan lama momen berharga seperti ini. Entah 5 atau 10 tahun kemudian pasti kita akan merindukan momen seperti ini. Suara tangisan anak-anak. Suara celotehan tidak jelas dari anak-anak. Rumah yang berantakan. Jadi nikmatilah waktu yang paling berharga untuk saat ini.


Yuk gabung bunda

aprillia71633

znuril960

Reply to this thread

This site uses cookies and other tracking technologies to differentiate between individual computers, personalized service settings, analytical and statistical purposes, and customization of content and ad serving. This site may also contain third-party cookies. If you continue to use the site, we assume it matches the current settings, but you can change them at any time. More info here: Kebijakan Privasi dan Cookie