Lebih dari 100 Ibu di Riau Terkena Campak dan Lahirkan Anak Cacat Haidir...

Lebih dari 100 Ibu di Riau Terkena Campak dan Lahirkan Anak Cacat Haidir Anwar Tanjung - detikHealth

(Catatan: kata #campak yang digunakan oleh wartawan dalam artikel di bawah kadang dimaksudkan sebagai “campak Jerman” atau #rubella. Apabila dilanjutkan dengan istilah sindrom rubella kongenital, maka maksudnya campak adalah rubella. Masyarakat Indonesia kadang masih sukar membedakan campak dengan rubella, maka penggunaan kata campak yang tertukar dengan rubella bisa dimaksudkan untuk memudahkan. Artikel Tribun di bawah sangat baik menjelaskan kisah-kisah anak-anak dengan sindrom rubella kongenital)

Pekanbaru - Sungguh menyedihkan. Data yang baru terhimpun di Riau ada 100 ibu hamil terkena campak. Imbasnya kini mereka memiliki anak-anak yang cacat.

"Data yang kita dapatkan baru 100 ibu-ibu hamil terkena campak. Ini kondisinya mereka yang mau membuka diri. Bisa jadi masih ada lagi yang belum mau membuka diri soal anaknya," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir dalam diskusi 'Situasi dan Ancaman Penyakit Campak dan Rubella' di Provinsi Riau, Senin (10/9/2018).

Dalam acara ini Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga menggandeng, UNICEF, MUI (Majelis Ulama Indonesia) Riau dan Dinas Kesehatan Pekanbaru. Hadir juga belasan ibu-ibu korban campak yang membawa anak-anaknya kondisi cacat.

Mimi mengungkapkan, Riau termasuk dalam endemi campak atau measles dan rubella (MR). Tercatat hingga Juli 2018 ada 972 kasus campak-rubella.

"Di Riau jumlahnya tergolong banyak. Makanya kita benar-benar menjalankan pemerintah untuk melakukan vaksin MR pada anak," kata Mimi.

Hanya saja, kata Mimi, dalam perjalanannya untuk melakukan vaksin harus tertatih-tatih. Ada sekelompok masyarakat yang menolak vaksin tersebut. Sehingga, sebagian pemerintah kabupaten dan kota ada yang menghentikan sementara suntik vaksin untuk anak-anak.

"Pemerintah dalam programnya vaksin MR ini demi masa depan anak-anak bangsa. Dan program ini juga berjalan secara internasional. Tapi memang sandungan di lapangan masih banyak. Kita mengharapkan semua pihak, untuk sama-sama membawa anaknya vaksin MR demi kebaikan bersama," kata Mimi.

Di Pekanbaru, kata Mimi, pelaksanaan vaksin MR memang dihentikan sementara. Penghentian ini karena adanya pro dan kontra. Namun demikian, diharapkan Pemkot Pekanbaru untuk dapat kembali melaksanakan program vaksin tersebut.

"Perlu kesadaran bersama akan pentingnya vaksin ini untuk kesehatan anak-anak kita," kata Mimi.

Khusus kepada ibu yang saat hamil terkena campak, kata Mimi, pihaknya sengaja menghadirkan diacara diskusi. Ini diharapkan, agar wartawan bisa langsung mendapatkan informasi dari para korban.

"Untuk mengumpulkan mereka bukan hal yang mudah. Karena belum tentu semua mau terbuka soal ini. Kami mengharapkan dukungan teman-teman media dalam membantu sosialisasi. Ibu-ibu ini kami hadirkan dengan anak-anaknya yang korban campak, sebagai bukti nyata," kata Mimi.

Dalam acara ini, para kaum ibu dan suaminya membawa anak-anak mereka yang terkena campak saat dalam kandungan. Pantauan detikHealth di acara itu, anak-anak tersebut ada yang mengenakan alat bantu pendengaran. Ada lagi kondisinya harus mengenakan kaca mata yang tebal. Usia mereka dari balita hingga belasan tahun.

Pengakuan sejumlah dari orang tua anak korban campak, ada juga yang harus operasi karena jantungnya rusak. Pendengaran mereka rusak. Mata mereka rusak. Kondisi anak-anak yang terkena campak sangat menyedihkan.

Sumber: https://m.detik.com/health/berita-detikhealth/d-4206485/lebih-dari-100-ibu-di-riau-terkena-campak-dan-lahirkan-anak-cacatfbclid=IwAR0fzxU8rZOy-xAXlmhj8oCJgD38wqtPI4DeqR_wQrjPPLdyocUwFxrlJ3U?

Kisah Sedih Orangtua Anak Penderita Campak dan Rubella, Ketua MUI Riau Teteskan Airmata Mendegarnya Selasa, 11 September 2018 08:16

Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com, Nasuha Nasution TRIBUNPEKANBARU.COM - Suasana ruangan menjadi lautan air mata menyaksikan langsung tangisan dan derita para anak penderita Congenital rubella syndrome (CRS) yang merupakan dampak Campak dan Rubella. Apalagi saat orangtua anak malang itu bercerita duka cita mereka mengurus dan mengobati anak mereka. Satu persatu orangtua mereka berkisah tentang penderitaan yang mereka alami, meskipun sudah menjadi takdir dari tuhan namun butuh orangtua tangguh dan kuat menghadapi penyakit yang melanda anak mereka tersebut.

Mereka (anak penderita CRS) dihadirkan dalam diskusi publik situasi dan ancaman penyakit campak dan rubella di Pekanbaru Senin (10/9).

Mereka dihadirkan untuk mengajak masyarakat lain ikut berpartisipasi imunisasi measles rubella mengingat ancaman penyakit ini sangat besar. Para anak yang rata-rata mengalami gangguan pendengaran dan gangguan lainnya ini didampingi para orangtua mereka yang tergabung dalam komunitas Anakku Sayang. Cerita itu dimulai dari Popi Handayani warga Jalan ikhlas Pekanbaru yang juga merupakan ketua komunitas Anakku Sayang tempat berkumpulnya orangtua penderita CRS. Saat itu Popi masih menjadi seorang guru di satu sekolah, Ia tertular dari siswanya saat itu yang menderita penyakit campak. Akibatnya menular pada bayi yang Ia kandung. Saat lahir anaknya mengalami kelainan pendengaran akibat tertular virus Rubella tersebut dari sang ibu, Popi menghadapi masalah ketika dihadapkan dengan kondisi tersebut. "Memasuki usia enam bulan sudah pakai alat pendengar anak saya, kemudian pakai implan pada usia dua tahun, memang luar biasa dampaknya, "ujar Popi.

Menurut Popi untuk berobat dan pemasangan alat saja keluarga Popi tidak bisa di Riau dan harus berangkat ke Jakarta dan untuk biaya yang dikeluarkan juga menurutnya sangat besar. Bahkan mencapai ratusan juta. Karena untuk pemasangan Implan saja satunya mencapai Rp80 juta ditambah alat bantu pendengar. "Alat dengarnya itu harganya mahal tidak bisa operasi di Pekanbaru dan harus ke Jakarta. Pokoknya sangat mahal, "ujar Popi. Saat ini usia anaknya sudah tujuh tahun namun akibat virus Rubella yang menimpa dirinya sampai saat ini Popi belum bisa hamil kembali. Popi sendiri saat ini memiliki komunitas anak ku sayang yang mana komunitas ini diisi oleh ibu-ibu yang mana anaknya menderita campak dan rubella. Komunitas tersebut menjadi tempat mereka berbagi informasi.

Maka untuk cara yang tepat memutus mata rantai penularan ini tidak ada jalan lain kecuali memberikan imunisasi kepada anak. Ini disarankan Popi agar tidak ada lagi anak yang lain yang menderita sama dengan anaknya. "Agar penderitaan ini kami saja yang merasakan, karena jujur kami berat menghadapi cobaan dengan penyakit anak kami ini. Jadi yang lain ikutlah imunisasi, "ujarnya. Orangtua lainnya yang juga menambah haru pertemuan itu Ronaldo Purba, orangtua muda yang dihadapkan dengan cobaan yang berat saat anaknya lahir sudah mengalami jantung bocor, kemudian dilakukan tindakan dengan melakukan operasi. Setelah dilakukan tindakan ternyata ada kelainan lainnya terutama pada mata dan pendengarannya. Hingga akhirnya divonis menderita CRS penyakit yang diakibatkan virus campak dan rubella. Perjuangan Ronaldo Purba sangat berat apalagi harus melakukan pengobatan kepada sang anak di Jakarta dan penyakit ini tidak bisa ditangani di Pekanbaru apalagi pemasangan alat bantu dengar dan operasi matanya. Tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan Ronaldo Purba untuk usaha penyembuhan sang anak. Karena anaknya disarankan gunakan alat bantu dengar. Sejak menggunakan alat bantu dengar itulah bagi Ronaldo anaknya Awal terlahir sebagai manusia normal bisa mendengar ketika dipasang alat.

"Kami membeli alat di distributor alat implan dua Rp260 juta alatnya. Ini untuk kesembuhan anak saya dan berbagai cara harus saya lakukan, "ujar Ronaldo. Anaknya menderita penyakit ini diketahui memang tertular dari sang ibu saat hamil dan pada saat lahir anaknya sudah langsung lahir dengan kelainan tersebut. Orangtua lainnya yang juga bercerita yang membuat semua haru Sutriawan yang merupakan karyawan swasta berasal dari Kabupaten Siak anaknya menderita CRS sejak lahir dan saat ini sudah berusia 3 tahun 10 bulan.

Ada beberapa kelainan pada anaknya mulai dari kelainan jantung, Mata, dan pendengaran hingga kurang lancarnya peredaran darah. Penyakit ini bermula saat istrinya mengikuti tes CPNS 2014 silam dan saat itu sedang mengandung. Saat pulang dari tes CPNS tiba-tiba istrinya panas tinggi dan tertular campak, hingga anaknya lahir maka terjadilah kelainan yang merubah hidupnya harus habis-habisan untuk mengobati sang anak. "Saya harus gada tanah untuk operasi mata anak. Sekarang sudah dipasang kacamata, cuma untuk pendengaran belum bisa beli alatnya karena mahal. Apalagi tidak ditanggung BPJS, "ujar Sutriawan. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau Nazir Karim yang hadir pada Diskusi Publik Situasi dan Ancaman Penyakit Campak dan rubella itu juga tidak kuasa menahan tangisnya melihat para anak penderita tersebut. "Maaf saya sangat terharu dan ini anak-anak titipan Allah dan orangtuanya sangat kuat dan orangtua pilihan, "ujar Nazir Karim sedikit menangis. Maka dengan tegas sebagaimana komitmen MUI karena ancaman kematian dan darurat maka anak di Riau harus mendapatkan vaksin imunisasi Measles Rubella tersebut. Ini juga sudah diarahkan kepada seluruh pengurus MUI di daerah. "Namun kota mendorong juga kedepannya agar pemerintah tetap memperhatikan vaksin ini harus halal, namun meskipun saat ini haram tapi karena kondisinya masuk dalam darurat maka umat islam boleh, "ujar Nazir Karim.

Dalam kesempatan itu dr Riza yang juga menjabat sebagai dokter anak di Riau menegaskan orangtua tidak perlu takut dampak dari imunisasi menimbulkan sakit dan lain sebagainya. Karena lanjut Riza di Riau Belum ada anak yang sakit gara-gara imunisasi. Sedangkan dampak dari imunisasi menyebabkan demam itu lanjut Riza merupakan hal yang biasa. Sehingga orangtua jangan percaya dengan hoak yang beredar.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir juga mengajak seluruh orangtua di Riau untuk peduli dengan ancaman Campak dan Rubella tersebut. Karena sudah jelas ancaman dan kondisi di Riau.

Untuk saat ini saja baru 18,47 persen dari target 1,9 juta anak yang sudah diberi imunisasi MR di Riau bahkan untuk di Indonesia saat ini realisasi diurutan 2 paling rendah. Sedangkan jadwal pemberian imunisasi hanya tersisa di bulan september saja. "Mari semua orangtua untuk ikut imunisasi dan ini untuk kesehatan anak - anak kita di Riau dan Indonesia. Karena ancaman ini masih sangat besar dan banyak sudah korban campak dan rubella ini, "ujar Mimi. (*)

Sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com/amp/2018/09/11/kisah-sedih-orangtua-anak-penderita-campak-dan-rubella-ketua-mui-riau-teteskan-airmata-mendegarnyapage=4&amp=;fbclid=IwAR2bIqGa1UzYEQmI9kWwCy7qK2iWFlXRGyJ80vufLeBVy3g-MPL-deG87Pg

https://www.facebook.com/arifianto.apin/posts/10214775772942332

Reply to this thread

This site uses cookies and other tracking technologies to differentiate between individual computers, personalized service settings, analytical and statistical purposes, and customization of content and ad serving. This site may also contain third-party cookies. If you continue to use the site, we assume it matches the current settings, but you can change them at any time. More info here: Kebijakan Privasi dan Cookie